Media Informasi Musuh atau Kawan

Assalamu’alaikum warahmatullah wa barokatuh

Media informasi sebagai pembentuk opini publik. Seperti itulah kalimat yang pas untuk berbagai media informasi yang ada, baik cetak maupun elektronik di Indonesia. Kalo kita lihat dari sudut pandang manfaat, tentu saja adanya media informasi sangatlah berguna terutama di era sekarang ini. Era yang mana manusia ingin bahwa semua itu dapat terwujud dengan instan.

Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat menyebabkan mayoritas orang menginginkan informasi yang didapat dengan cepat dan mudah. Maka dari itu, tidak jarang berbagai media, khususnya di bidang elektronik, saling berlomba dalam pemberitaan berita-berita yang sedang terjadi se-real time mungkin. Hal itu karena sangat berharganya sebuah informasi. Ketinggalan sedikit saja kita bisa disebut “kuper”,”jadul”, atau apalah. Akan tetapi, kalau kita amati, seringkali pemberitaan yang ada tidak begitu mempedulikan ke-valid-an dari informasi tersebut. Sehingga tidak jarang kita temui berita yang tidak jelas, bahkan seringkali menjadi bahan kontroversi antara benar salahnya. Sangat disayangkan jika hal itu terjadi hanya karena ingin berlomba-lomba siapa yang paling cepat memberitakan peristiwa yang sedang aktual atau “hot”.

Bagaimana kita sebagai seorang muslim menyikapinya? Dalam ajaran Islam kita diajarkan untuk bertabayun terlebih dahulu sebelum membenarkan sebuah berita yang sampai kepada kita. Jangan terlalu mudah percaya dengan pemberitaan yang ada jika tidak ada sumber-sumber (bukti dan saksi) yang jelas. Kalau kita menengok sedikit tentang hadits (semoga bisa belajar dari ini), terutama dalam periwayatannya, tidak sembarang hadits bisa disebut shahih. Ada 1 syarat saja yang tidak terpenuhi dari periwayatan tersebut, bisa turun tingkat jadi hasan bahkan dlo’if. Di dalam Islam, masalah periwayatan hadits memang harus diteliti secara detail, apakah sanadnya benar-benar bersambung sampai Rasulullah Saw, sampai sifat perawinya juga diteliti, apakah suka berdusta, kuat hafalannya, dsb. Kemudian isi-nya pun dibandingkan dengan periwayatan yang lain, kalau berbeda dengan yang lain, maka perlu dipertanyakan keshahihannya. Itu sih masalah periwayatan hadits yang memang sangat vital bagi umat Islam karena hadits (mutawatir) adalah sumber pedoman setelah Al Qur’an.

Peran media informasi ini juga bisa digunakan untuk senjata pamungkas pemerintah yang sedang berkuasa untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari masalah yang sedang muncul di pemerintahan. Mungkin kalo kita jeli terhadap media-media saat ini, akan kita ketahui seperti itu. Ini sih menurut saya bukan su’udhan namanya. Akan tetapi, hal tersebut memang benar-benar jelas. Lebih disayangkan lagi, sering dialihkan ke pemberitaan seperti terorisme, kekerasan kelompok tertentu, dsb yang mengarah ke umat Islam. Siapa yang rugi? tentu saja umat Islam. Lha trus siapa yang untung? pemerintah dan musuh-musuh Islam tentunya. Pemerintah dapat mengalihkan pemberitaan yang mengungkapkan buruknya pemerintahan, selain itu, pemerintahan akan terlihat berjalan dengan baik. Sedangkan para musuh Islam dengan terang-terangan dapat menghina dan mendholimi umat Islam di Indonesia ini. Orang-orang yang ingin menegakkan syari’at Islam di Indonesia malah justru dipenjara karena dibentuknya pemberitaan (entah benar atau salah) yang  menunjukkan terlibat teroris lah, atau pemberitaan bahwa mengancam pemerintahan dengan ideologi Islam.

Trus bagaimana nih dengan berita-berita yang ada sekarang ini? Ya tentu saja kita harus teliti berita tersebut, benar atau salahnya. Kita jangan sampai dengan mudah percaya 100% terhadap berita sekarang, terutama yang berhubungan dengan Islam. Begitu banyak pemberitaan mengenai Islam yang  menempatkan masyarakat di sudut pandang yang melihat bahwa (ajaran) Islam itu buruk. Dan apa yang terjadi? musuh Islam selalu “tertawa” setiap saat, bahkan lebih parahnya lagi terjadi perpecahan di kalangan umat Islam itu sendiri. Saling curiga dengan sesama umat Islam, menuduh teroris kelompok lain, mengkafirkan yang tidak sefaham (masalah ikhtilaf), na’udzubillah min dzalik… Itulah pentingnya bertabayun terlebih dahulu dalam menerima suatu berita, agar tahu benar tidaknya suatu berita. Selain itu, hal-hal seperti perpecahan dalam Islam dapat dihindari. Karena keimanan inilah kita semua menjadi bersaudara, meskipun kita dari suku, bangsa, negara yang berbeda.

Ga enak neh rasanya nulis tanpa contoh-contoh yang jelas. Media sebagai senjata ampuh dalam membentuk opini masyarakat bisa kita lihat seperti contoh berikut: (contoh tak hanya di Indonesia)

  • Banyaknya kasus korupsi di pemerintahan dapat teralihkan dengan kasus terorisme (yang ditujukan kepada umat Islam)
  • Pemberantasan teroris di seluruh pelosok Indonesia menjadikan pemerintah terlihat super, hebat, keren, atau lainnya. Padahal dibalik itu semua, siapa yang dibunuh kita tidak tahu dia itu emang teroris atau bukan.
  • Kalo di amerika mungkin pernah kita tahu, adanya film “Rambo”. Militer amerika yang kalah di Vietnam dalam film Rambo menjadi menang, bahkan dimenangkan oleh 1 orang. Konyol sekali kan? Masih ada film lain, terutama untuk menutupi kekejaman amerika saat menjajah negara-negara Islam di Timur Tengah, di film itu diceritakan pasukan amerika datang untuk menolong masyarakat sipil dari kekejaman pemerintah negara Islam tersebut. Akan tetapi, kenyataannya tidak seperti itu. Rumah-rumah dihancurkan, harta, keluarga, tanah.. hilang semua. (sayang sekali lupa nama film-nya)
  • Ada juga kesalahan pemberitaan tentang masjidil Aqsha. Seringkali kalo kita mencari informasi gambar tentang masjidil Aqsha, yang muncul adalah masjid berkubah emas. Padahal sebenarnya bukanlah itu masjidnya, dengan pemberitaan yang salah itu, orang-orang yahudi bisa dengan seenaknya merusak masjidil Aqsha yang asli. Perhatikan gambar berikut ini:
Mungkin cuma itu contoh-contoh yang dapat saya berikan tentang media informasi yang digunakan untuk membentuk opini masyarakat, sehingga yang salah/buruk terlihat jadi benar/baik. Pesan terakhir untuk postingan saya kali ini:
Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik dengan membawa berita, maka telitilah berita itu agar kalian tidak memberikan keputusan kepada suatu kaum tanpa pengetahun sehingga kalian akan menyesali diri atas apa yang telah kalian kerjakan. (Al Hujurat: 6)
Begitu banyak musuh-musuh Islam yang menggunakan media informasi sebagai senjata utama mereka. Menutupi niat-niat jahat mereka untuk menghancurkan Islam. Waspadalah saudara-saudaraku seiman, jangan sampai mudah termakan dengan berita-berita yang tidak jelas kebenarannya.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarokatuh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s