[Backpacking] Perjalanan Jogja – Bali (Part 1)

Bismillah…

Kegalauan di awal semester 5 menyebabkan jarang untuk nulis di blog lagi… dan kegalauan itu harus berakhir awal semester baru ini. Mulai menata kembali niat dan fokus terhadap tujuan awal pergi ke Jogja. Tak perlu banyak BBB (basa-basi busuk), langsung saja ane mulai ceritanya. Beberapa waktu yang lalu, ane (Saladin), Hafidh, Maskun, Asfar, dan Riris pergi ke Bali dalam rangka liburan akhir semester. So, pada kesempatan kali ini, ane pengin cerita neh mengenai pengalaman menjadi bolang (bocah ilang) di Bali. Btw, sudah pernahkah kesana? Ato pengin ke sana kah? Cucok dah.. tulisan berikut mungkin akan membantu menggambarkan suasana Bali.

Bali, siapa sih yang ga kenal Bali? salah satu pulau di Indonesia yang sangat terkenal di luar negeri. Ada banyak sekali tempat wisata di pulau tersebut. Pantai untuk olahraga surfing, danau, dan lain sebagainya. Selain itu, banyak juga terdapat pura karena mayoritas penduduk Bali beragama Hindu dan itulah mengapa pulau Bali disebut juga pulau Dewata. Ane bersama 4 orang teman yang lain berangkat ke Bali sehari setelah Ujian Semester matakuliah terakhir (Pemrograman Jaringan) selesai (alhamdulillah.. dapat A). Oh iya, kurang lebih seminggu ane habiskan untuk liburan di Bali. Rute perjalanan secara singkatnya seperti ini: Jogja – Banyuwangi – Ketapang – Gilimanuk – Singaraja – Bedugul – Kapal – Sanur – GWK – Legian – Kuta – Tanah Lot – Denpasar – Perjalanan pulang.

Detail Perjalanan

Hari Pertama (Rabu, 25 Januari 2012)
Ane berangkat hari Rabu tanggal 25 Januari 2012 jam 7.45 (pagi). Berangkat dari Stasiun Lempuyangan (Jogja) naik kereta Sri Tanjung (ekonomi) menuju Banyuwangi. Suasana perjalanan, banyak sekali pedagang asongan yang menjajakan makanan atau barang dagangan lain. Harganya bisa beberapa kali lipat dari harga biasanya. Maka dari itu, sebaiknya persiapkan bekal terlebih dahulu sehari sebelum berangkat (bekal penting: air mineral, snack, roti). Setelah kurang lebih 15 jam perjalanan (huhft.. lama beuud), akhirnya sampai juga di stasiun Banyuwangi Baru (yeaah..). Sampai di Banyuwangi malam hari jam 11 (malam). Ane dan 4 orang lainnya jalan kaki menuju pelabuhan, karena memang letak pelabuhan Ketapang tidak jauh dari stasiun tempat berhenti. Oh iya, tak lupa mampir dulu untuk beli bekal di Indomaret. Sampai di pelabuhan Ketapang numpang tidur di serambi mushola karena memang rencananya berangkat pagi setelah matahari terbit agar bisa melihat-lihat pemandangan pelabuhan Ketapang dan selat Bali (maklumlah.. belum pernah naik kapal sebelumnya :P). Saat tidur di mushola, waspada lho.. nyamuk di dekat pelabuhan ganas-ganas. Sebaiknya selain makanan, bawa obat nyamuk juga.

Catatan untuk hari pertama:

  • Cek lebih dahulu tiket keretanya: nama keretanya, jenis kereta, nomor gerbong, nomor tempat duduk.
  • Jangan lupa berdoa sebelum berangkat.
  • Sholat wajib HARUS tetap dilakukan walau sedang berada di kereta. (bisa dilakukan dengan duduk)
  • Sebaiknya bawa air minum dan makanan yang mengeyangkan (roti), karena di kereta terlalu mahal untuk membeli nasi satu “pulukan”
  • Sebaiknya membawa buku ato walkman agar tidak merasa bosan saat di kereta (kalo ga punya, ya udah tidur aja)
  • Berhati-hatilah dengan barang bawaan anda. Kehilangan barang bawaan bukan tanggungan saya๐Ÿ˜›

Hari Kedua (26 Januari 2012)
Bangun tidur, sholat Shubuh berjamaah di mushola. Mandi terlebih dahulu biar segar, tapi harus antri soalnya kamar mandinya cuma ada satu. Segera saja ane cek kembali barang bawaan agar tidak ada yang ketinggalan. Petugas pelabuhan sejak selesai shubuh sudah berteriak “mengusir” kami agar segera berangkat (sabar lah Pak…). Mau naik ke kapal, sempat lari-larian takut ketinggalan kapal. Ini gara-gara kelamaan foto-foto di pelabuhan sih (ckckck.. ndeso). Alhamdulillah, pagi itu airnya cukup tenang. Jadi kapal tidak terlalu bergoyang-goyang. Sepanjang perjalanan hanya melihat air yang biru kehijauan dan juga kapal-kapal penyeberangan lain berlalu-lalang. Tapi bagus banget kok pemandangannya. Sesampai di pelabuhan Gilimanuk (Bali), ada pemeriksaan KTP. Malangnya, ada seorang teman yang tidak bawa KTP. Akhirnya harus ditahan dan di-interogasi terlebih dulu oleh petugas pemeriksa. Lumayan lama sih menunggu teman di-interogasi, akhirnya selesai juga dengan senyuman dan tak lupa “uang bensin” >,<. Begitu keluar dari area pelabuhan, tiba-tiba saja langsung diberi “sambutan hangat” oleh calo.
“Mau kemana dek? Denpasar? Singaraja?”
“Singaraja.” jawab kami singkat.
“Oke, Singaraja. Ayo ikut sini..” dengan logat Bali
“Sampai Singaraja berapa?” (karena emang ga ngerti harus naik apa, ya udah ikut aja)
“20 ribu”
“Ga bisa kurang pak? Ini rombongan lho..”
“waah, ga bisa.. memang kenanya segitu..”

Terpaksalah naik angkot warna merah hati seharga 20rb/orang ke Singaraja. Pada awalnya sing jengkel juga… masa tarif angkot 20rb? Tapi, Gilimanuk ke Singaraja ternyata jauh juga, butuh waktu kira-kira 2 jam untuk sampai sana. Hehehe, ga sia-sia 20rb untuk perjalanan sejauh ini. Di perjalanan menuju Singaraja, terlihat suasana khas Bali. Rumah-rumah dibangun dengan dilengkapi sebuah bangunan kecil di samping rumah sebagai tempat pemujaan. Selain itu, hampir tiap rumah ada sapinya (catatan: di Bali, sapi adalah hewan suci). Oh iya, sempat terlupa… Kami ke Singaraja karena memang tujuan pertama kami adalah rumah saudara si Maskun di Jalan Skip, Singaraja. Setelah sekian lama perjalanan, akhirnya angkot pun berhenti juga di sebuah pasar. Kami berlima harus jalan kaki 200 meter untuk menuju Jalan Skip. Melihat kanan-kiri, hampir di setiap depan rumah ada sajen dengan bau kemenyan yang sangat menyengat (ihh.. horror). Di tambah lagi, anjing-anjing berkeliaran di mana-mana. Beda banget lah sama di Jawa.

Sampai di rumah saudara si Maskun, disambut dengan hangat oleh keluarga sana dengan es teh manis dan juga anggur. Kegiatan sesampai di sana cuma makan-makan snack, tidur-tiduran, tanya-tanya tempat wisata, tanya harga makanan, dan pertanyaan-pertanyaan bolang (bocah ilang) modal cekak (sedikit). Di Singaraja masih banyak sih penduduk muslimnya, tapi kebanyakan adalah penduduk pendatang dari Jawa. Masih teringat kala itu, setelah sholat Maghrib di masjid dekat kediaman saudaranya si Maskun. Para jamaah beserta imam bersama-sama membaca al Qur’an setelah itu ada semacam pengajian kecil (halaqah) tentang agama Islam tentunya. Ada sebuah hadits yang disampaikan dalam halaqah itu, โ€œSesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.โ€ (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu โ€˜anhuma). Memang benar sih kalo dipikir-pikir. Sekarang ini orang yang menjalankan agama Islam dengan benar malah sering kali dikatakan luar dari kebiasaan / aneh. Tidak mengadakan peringatan kematian (7, 40, 1000 hari) dibilang aneh, memelihara jenggot dan pakai pakaian di atas mata kaki dibilang teroris, dan lain sebagainya. Semoga kita termasuk orang-orang yang dianggap asing tersebut… bersambung

13 thoughts on “[Backpacking] Perjalanan Jogja – Bali (Part 1)

  1. saladinreborn says:

    mencoba tantangan yang baru emang menyenangkan oom, tapi jujur aja kalo soal makan lebih terasa nikmat ketika di Jogja. (was-was halal ato nggak).

    semoga sukses rencana travelling nya… ga bisa ngebayangin, kalo naik motor capeknya spt apaan >_<

    salam kenal juga

  2. Herry says:

    gan .. kereta dri Jogja ke bayuwangi nga ganti kereta yaa pas di surabaya.. info nya katanya rute nya Jogja-di surabaya ganti kreta lagi menuju bayuwangi.. ??? info donk.. rencana desember mau backpacker juga ke Bali dari Jogja..๐Ÿ˜€

    • saladinreborn says:

      kalo aq dulu nggak ganti gan… naik kereta Sri Tanjung jurusan Lempuyangan – Banyuwangi Baru… tp ntr berhenti di Surabaya dolo (dulu agak lama sih). Truz, keretanya mundur lagi buat pindah jalur menuju ke Banyuwangi.
      Perjalanane bikin capek, kira2 15 jam berada dikereta.. /(`o`)\

    • saladinreborn says:

      Yup, Unforgetable memory..๐Ÿ™‚ itu aja mendadak bgt, stlh ujian smstr selesai, besoknya udah berangkat.. Hahaha
      Soal tiket kalo ga salah, skrg 50rb pak.. (lempuyangan – banyuwangibaru)
      Pdhl 2th yg lalu ga sampe 50rb udah sampe Gilimanuk..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s