Munaqosyah

presentationCerita ini bermula saat ada presentasi penelitian di fakultas pada pertengahan bulan Juni. Hari-hari di saat gw lagi “on-fire” ngerjain skripsi, mengejar pendaftaran munaqosyah 20 Juni. Saat itu, sedang berlangsung presentasi penelitian yang gw gak ngerti bahas apaan, soal e beda bidang ilmu. So, gw ngobrol aja dengan pak A3 (nama disamarkan).

“Pak, njenengan wes tau ngerti skripsi SI ra nganggo DFD, ERD, opo UML?”

“Hmm.. ra ono, tapi ketoke ono ding. Lha ngopo?”

“Skripsiku ra arep nganggo bla bla bla… soale metode sik tak nggo bla bla bla…”

“Yo ora isoh, tetep kudu ono desain sistem e bla bla bla…”

“tapi kan nggonku bla bla bla…..”

Perbincangan itu lambat laun menjadi perdebatan tentang metode agile. Gue tetep berpendapat kalo agile itu tidak mementingkan dokumentasi desain sistem. (idealis banget). Namun, pak A3 tetep berpendapat kalo skripsi Sistem Informasi ya harus tetep ada desain sistemnya, dengan alasan orang lain itu gak bakal ngerti apa yang kamu kerjakan, apa yang kamu buat, dan apa yang kamu pikirkan kalo tidak kamu tuliskan. Akhirnya, gue menyerah  tetep pada pendirian “tidak ada dokumentasi berupa desain sistem untuk metode agile” dan Itulah awal dari kesalahan fatal yang gw lakukan. #lol

Singkat cerita, BAB 1, BAB 2, BAB 3 udah selesai. So, gue bimbingan BAB 4 (Perancangan Sistem) ke dosen pembimbing skripsi, yaitu pak A1.

Sekilas dilihat oleh pak A1 kemudian bertanya, “Ini use case, activity diagram, class diagram, dan sebagainya itu belum ada ya?”

Kemudian gue jawab, “Belum, pak. Soal-e saya bingung juga pak. Kalo metode scrum ini kan pakai user stories untuk menggambarkan sistemnya, sebenarnya cuma dengan itu bisa menjelaskan proses bisnis sistemnya pak. Jadi, kayaknya ga perlu lagi membuat diagram-diagram itu.”

Lagi-lagi gue menjadikan metode sebagai kambing hitam untuk menghindari nulis dokumentasi banyak-banyak. Ngebayangin-nya aja males banget, apalagi ngerjainnya coba? >_<

“Mmmm, nggak mas, tetep dibuat aja diagramnya, cuma use case, class diagram, activity, sama rancangan database-nya aja”

“Ooh, ya Pak..”, hanya bisa meng-iya-kan aja. Udah mati kutu gw😥

===== + =====

@fakultas – depan Papan Pengumuman

8 Juli 2013. Ketua sidang berinisial A1, penguji 1 berinisial A2 dan penguji 2 berinisial A3. Hanya bisa nyengir kuda saat melihat jadwal munaqosyah (sidang skripsi/pendadaran) yang ditempel di papan pengumuman. Lucu aja sih, kenapa ketiganya dosen yang tertulis menjadi ketua sidang dan penguji bisa berhuruf depan A semua ya? Hahaha, triple A. Tapi gak cuma karena triple A itu aja sih, di bagian penguji 2 tertulis nama A3. Ya, pak A3, yang udah ngerti banget kebusukan skripsi guee gara-gara debat tentang agile di tengah-tengah presentasi penelitian dana hibah dosen. Yah, kuwalat kali ya.. ga nge-dengerin presentasi orang lain.

Oh iya, pada hari itu (8 Juli 2013) gue munaqosyah bareng sama temen se-angkatan, sebut aja Kichi. Namanya emang mirip sama makanan ringan yang biasa gue makan waktu kecil (red: Chiki). Si Kichi munaqosyah agak pagian, sekitar jam 10 dan gue munaqosyah siang, jam 1. So, pada hari itu gue berangkat agak pagian buat nonton munaqosyah si Kichi dulu. Sampe di TKP, ternyata udah mulai munaqosyahnya si Kichi. Ya udah, nunggu di luar sama temen2 yang lain sambil ngabisin makanan yang tersedia.

Persiapan

Jujur aja gue ga ada persiapan khusus buat ngadepin munaqosyah. Slide presentasi dibuat ala kadarnya dan dibuatnya h-3 (baca: hour – 3). Ya 3 jam sebelum maju. Jadi waktu si Kichi sedang sidang, gue baru buat slidenya. Ga perlu dibayangin dah jadinya slide kayak apaan, bagi gue yang penting: “ada yang bisa ditampilin waktu munaqosyah”😛 Simple kan?

Waktu Dhuhur tiba, segera gue ke maskam UIN untuk sholat berjama’ah. Setelah itu langsung pulang balik ke kos untuk ganti pakaian. Masa sih munaqosyah kok pakai kaos.. ga banget kan, hehehe. Celana panjang warna hitam telah terpakai, kemudian hem putih panjang bekas OPAK (kalo di kampus lain disebut ospek) kurang lebih 3 tahun yang lalu juga telah terpakai dan yang terakhir memakai jas hitam peninggalan bapak gue plus dasi yang baru aja minjem punya si Fadli. Kemudian gue berdiri di depan kaca jendela (maklum ga ada cermin), badan ditegap-tegapin seraya mengacungkan jempol.. “Dua bulan dapat mobil!!” | alamaak, emg MLM

@fakultas

Sidang munaqosyah

Singkat cerita, munaqosyah pun dimulai dan dipimpin oleh pak A1, sebagai ketua sidang sekaligus dosen pembimbing skripsi. Sekilas info aja ya, di ruang sidang hanya ada 4 manusia. Satu orang peneliti (yang ngerjain skripsi), satu orang ketua sidang (biasanya sih dosen pembimbing skripsi), dan dua orang penguji (biasanya dosen yang satu bidang dengan hal yang diteliti). Sekitar 15 menit presentasi dan demo aplikasi sudah selesai gue lakukan. Gue memang orangnya gak suka lama-lama kalo presentasi. Cukup singkat, padat, berisi, mempesona, menarik, dan tentu saja jelas. (penginnya sih seperti itu, realisasinya? gak tau deh).

Selanjutnya: sesi tanya-jawab, penguji memberikan pertanyaan, kemudian presentator menjawab. Pertama kali, pak A2 yang memberi pertanyaan tentang product backlog. Trus, gue jawab aja. Tanya lagi, gue jawab lagi. Tanya lagi, baru setengah menjawab udah ditanya lagi. Haduuh, bikin bingung aja. Meskipun seperti itu, gue tetep cool aja. Selama tidak menanyakan satu hal yang menjadi kelemahan skripsi gue. Sebelum mendaftar munaqosyah sebenernya gue ngerti banget kelemahan skripsi yang gue tulis. “Minimnya dokumentasi“, terutama dokumentasi daily progress pengerjaan sistem. Jujur aja males banget pake nulis-nulis kayak begituan segala, bayangin aja… nulis progres harian selama 2 bulan pengerjaan. Hari 1 pengerjaan sudah segini, hari 2 sudah sekian, hari 3 , hari 4, hari ke 5, dan seterusnya. Ya memang seperti itulah metodenya, kalo didokumentasikan bisa banyak banget. Padahal, setauku salah satu manifesto metode agile itu “working software over comprehensive documentation”. Huhft…

Pertanyaan demi pertanyaan udah dilancarkan, dan bisa gue jawab seenaknya eh se-kena-nya. Pada akhirnya, pertanyaan yang mengarah ke kelemahan gue itu pun muncul. “mm.. ini perencanaan seperti ini, tapi kok realisasi tidak dijelaskan ya?” Gue jawab aja dengan kalimat mutiara tentang agile itu tadi (red: agile manifesto), tapi ternyata satu kalimat itu tak cukup kuat menjadi tameng untuk menghadang serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh penguji. Sampai sekarang, masih terngiang-ngiang kalimat terakhir dari penguji sebelum sesi istirahat sidang munaqosyah. “Kalo kamu nulis judulnya Rancang Bangun bla bla bla menggunakan metode X, seharusnya metode X itu menjadi kelebihan dari skripsi kamu. Tapi, skripsi yang kamu tulis ini malah tidak memperlihatkan metode yang kamu pakai sama sekali.” #jlebb. Ya udah, cuma bisa 3 P (prengas-prenges pasrah).

Oh iya, pak A3 yang udah terlanjur ngerti kebusukan skripsi gue ternyata ga terlalu membahas mengenai kelemahan skripsi gue. Mungkin gara-gara muka gue kelihatan melas banget kali ya.

Istirahat

Pada sesi ini, mahasiswa/peneliti/presentator keluar ruangan. (Lho, ada apa nih kok pake acara keluar ruangan segala?) Yaa.. terserah aja, mau makan kek, mau loncat-loncat, mau salto juga terserah dah. Sedangkan penguji dan ketua sidang melakukan sidang tertutup untuk menentukan lulus atau tidaknya gue.

Ternyata di luar sudah menunggu banyak temen2 TI se-angkatan, baik yang udah lulus maupun yang belum. (Sorry yo ga ono mangan2, asli lagi bokek abisss.. hehhe). Oh iya, dari awal munaqosyah sampai istirahat, jujur aja gue ga ngerasa nervous sama sekali. Yup, tidak gugup ataupun grogi, semuanya berjalan biasa aja, entah karena saking pasrahnya sampe mati rasa kali ya? XP. Detik demi detik pun berlalu. “Lho, kok lama ya?” Awal udah tenang-tenang aja, ini malah mulai galau. Mengenai sidang tertutup, biasanya temen2 yang lain paling banter cuma 5 menit. Lha ini giliran gue kok lama ya? Jangan-jangan… Ah, pasrah aja dah, gue udah berusaha semaksimal mungkin. Cuma bisa berdo’a kemudian tawakal.

Keputusan Sidang

“Mas Nur Shalahuddin Fajri, dengan sangat menyesal kami memutuskan kamu harus sidang munaqosyah ulang”, kata ketua sidang.

“…..” (ekspresi datar)

“Hehe, cuma bercanda.. Lulus kok, tapi dengan revisi.”

“…..” (masih ekspresi datar) “Ini sebenernya gue lulus ato nggak sih?”, batinku.

“Selamat ya sudah lulus. Oh iya, revisinya maksimal satu bulan setelah tanggal sidang. Kalo nggak direvisi ya nilainya berkurang atau malah harus munaqosyah ulang”, tambah ketua sidang.

“ooh, berarti lulus beneran”, batin gue yang baru nyadar. “Alhamdulillah….”

“Sebenarnya kelemahan skripsi kamu itu cuma kurang dokumentasinya, kita kan gak tau kamu sudah melakukan apa aja, kamu memikirkan apa aja, kamu mengerjakan sudah sampai mana kalo tidak kamu tuliskan disini”, kata pak A3. “Iya, kami percaya kamu sudah buat coret-coretan progres harian di papan tulis, tapi masa kami harus diajak ke kosmu kemudian menunjukkan ‘Itu pak progresnya’. Ya tetap harus ditulis di laporan (skripsi)”, tambahnya.

“Oke pak.”

“Ya seperti itulah programmer pak, malah bingung kalo disuruh membuat dokumentasi”, kata pak A1 kepada dua penguji.

“Padahal, tulisan di blog-nya itu bagus lho, tapi dia orangnya romantis”, tambah pak A2.

(facepalm) *mengingat-ingat gue pernah nulis apa aja

* catatan penulis:

Suatu pekerjaan dapat kita selesaikan karena kita memulainya | mulai aja nggak, jangan ngimpi bisa selesai.

Menjadi seorang yang idealis itu perlu, tapi alangkah baiknya tetap open dengan pemikiran orang lain yang berbeda.

ditulis oleh Sho Tozuro

#edisimunaqosyah

#skripsi

to be continued

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s