Pendakian Merbabu (3142 mdpl) 2013

Alhamdulillah, setelah sekian lama menunggu akhirnya kesampaian juga mendaki Gunung Merbabu. Pendakian ini merupakan pendakian kali ketiga serta puncak pertama setelah dua kali naik Gunung Merapi dan tidak pernah sampai puncak. #lol

sabana1-packing

melihat Merapi dari Merbabu

Kenapa sih pilih mendaki Merbabu?

Begini ceritanya.. Saat pendakian gue yang kedua, yaitu pendakian Merapi (maaf, cerita dikit tentang pendakian Merapi dulu ya kawan). Langit saat itu sangat cerah. Gue bersama teman-teman PMTG mulai naik malam hari setelah sholat Isya’ kira-kira pukul 19.30. Sampai di pasar bubrah kira-kira tengah malam lah sekitar jam 12 an. Dari atas kami melihat kota Boyolali pada malam hari. Indaaaah banget. Lampu-lampu kota yang menyala kuning kecoklatan, lampu kendaraan yang melintasi kota Boyolali, serta lampu-lampu rumah yang masih menyala.

Setelah puas memandang kota di bawah sana, kami ber-6 merebahkan tubuh untuk menghilangkan capek. Subhanallah.. Di atas sana langit begitu cerah tanpa ada awan. Hamparan bintang yang bersinar memenuhi langit di malam itu. Dari timur ke barat, dari utara ke selatan hanya hamparan bintang. Seperti planetarium yang pernah gue kunjungi saat study tour SMP, tapi bedanya “ini real”. Sumpah, bikin speechless. Semakin menyadari bahwa manusia itu hanya seperti debu di padang pasir. Kecil bahkan tak terlihat jika dibandingkan dengan alam semesta yang ALLAH ciptakan ini.

Keesokan harinya, langit masih saja cerah. Matahari dengan penuh semangat terbit (sunrise) dari sebelah timur. Benar-benar sangat indah sekali. Tentu aja tak lupa manfaatkan momen itu untuk foto-foto. Gak perlu lagi menggunakan software apapun untuk mendapatkan foto efek siluet. Mantab lah pokoknya. Setelah puas foto-foto, gue lihat-lihat sekeliling dan pandangan terhenti pada satu objek yang tak lain adalah Gunung Merbabu. Gunung Merbabu terlihat sangat begitu dekat dari atas Merapi, seolah dengan sekali lompat bisa sampai sana (lho, emangnya Sun Go Kong?). Merbabu juga terlihat hijau karena di sana memang isinya hutan dan sabana (padang rumput). Seketika itu langsung membayangkan lari-larian di padang rumput seperti di film-film India, tapi bedanya.. lari-larian sendirian #alone. Gunung Merbabu terlihat sangat gagah dan mentereng seolah menantang diriku untuk mendakinya. Saat itu juga gue berkata dalam hati, “Gak akan rela naik gunung-gunung yang lain sebelum menaklukan Merbabu”. Itulah mengapa gue pilih Gunung Merbabu.

Persiapan mendaki Merbabu?

Belajar dari pengalaman, gue udah menulis apa-apa saja yang perlu disiapkan untuk mendaki. Terutama hal-hal yang sangat penting. Seperti berikut inilah persiapan yang harus dilakukan menurut gue:

Tujuan pendakian beserta informasi jalurnya. Masa sih naik tanpa tujuan mau naik gunung apaan? Ga lucu banget kan. Tujuan itu penting, perencanaaan untuk mencapai tujuan juga penting, dan yang gak kalah penting adalah realisasi dari perencanaan.

Mental kuat. Be a Man!! Orang mampu ga akan mencapai apa yang diinginkannya kalo mentalnya mengatakan “gue tidak bisa”. Sedangkan orang yang tidak punya kemampuan akan bisa mencapai apa yang diinginkannya jika mentalnya mengatakan “gue pasti bisa”. Pokoknya pinter-pinter men-sugesti diri agar mental jadi kuat.

Latihan fisik. Minimal ya lari-lari secara rutin dua minggu sebelum naik. Why? Agar tubuh tidak terlalu kaget ketika naik nanti, terutama bagi orang yang jarang melakukan aktivitas fisik (kerja di depan komputer, dsb).

Peralatan mendaki. Bagi gue yang penting sih ada sleeping bag, sepatu/sandal gunung, tas (yang kuat), matras, jaket, dan logistik. Selain itu, menurut gue cuma opsional. Keterangan lebih detail mengenai peralatan mendaki, bisa disimak pada bagian berikutnya.🙂

Perjalanan pendakian Merbabu?

Kami ber-empat, gue (sho), Rischan (riries), Asfar, dan Hafidh mendaki Merbabu via Selo (nama daerah di Boyolali, antara gunung Merapi dan Merbabu). Kami berangkat dari Jogja (Sapen) menjelang maghrib, jam 5 an sore menuju ke Magelang. Selama perjalanan langit sangat mendung bahkan sempat gerimis juga. Setelah kurang lebih 1,5 jam perjalanan, kami sampai di suatu daerah entah apalah namanya. Kami ber-empat (alhamdulillah masih genap 4 orang) mampir ke masjid untuk sholat Maghrib sekalian Isya’, takut kalo terjadi apa-apa dalam keadaan belum sholat, serta belum nikah pula (hubungane uopoo?).

Di masjid tersebut, kami berempat sempat menjadi pusat perhatian masyarakat setempat yang menjadi jama’ah di masjid tersebut. Gue sih maklum aja, mungkin kami dikira anggota F4 (Meteor Garden) atau pemain Boys Before Flower yang nyasar kesana. Soalnya kalo dilihat dari tampang dan kemampuan olah vokal, kami memang tidak beda jauh dengan mereka, 11 – 12 lah. Yaa, 11  – 12 #lol. Sebagai orang yang merasa sesat (maksudnya tidak tau jalan), kami mencoba berdialog dengan penghuni asli sana, bertanya tentang jalan, Merbabu, cuaca, dan sebagainya. Langit yang mendung petang itu ternyata bukan sebuah kendala, malah justru waktu yang bagus, kata seorang bapak warga sana. Cuaca di gunung memang sulit untuk kita pastikan. Mungkin saat di kaki gunung langit begitu cerah, tapi setelah sampai di atas ternyata mendadak muncul kabut atau sebaliknya. Alhamdulillah hasil diskusi dengan bapak-bapak tadi semakin menambah kemantapan kami untuk tetap naik Merbabu.

Basecamp

Pukul 8.30 pm kami sampai di basecamp Merbabu. Langsung aja kami parkir motor kami dan bayar juga tentunya. Kemudian registrasi, sekedar mencatat berapa orang yang akan naik dan bayar lagi juga tentunya. Hadeeh, yang menciptakan alam dan seisinya aja Allah kenapa harus pakai bayar-bayar segala ke manusia. Whatever lah. Sebelum mulai pendakian kami istirahat sebentar dan juga makan malam bareng (candle light flashlight dinner). Makan bareng di sinari lampu senter, beralaskan matras dan beratapkan langit malam penuh bintang. So sweet… tapi apa daya kami ber-empat hanyalah kumpulan laki-laki jomblo #lol. Selesai makan, sekitar jam 10 pm kami mulai berangkat. Suasana malam itu sungguh ramai oleh para pendaki. Maklumlah malam 17-an (red: hari Kemerdekaan RI). Banyak pendaki yang berniat untuk upacara Kemerdekaan RI di pucak gunung, tapi kalo gue cuma niat tadabbur alam aja sih. Bagiku, Indonesia masih jauh dari kata “merdeka”. So, kita masih harus ber-joeang kawan.

Hutan

Medan yang harus dilalui pertama kali pendakian Merbabu via Selo adalah hutan. Sebenarnya kalo malam hari suasananya sangat mencekam, untungnya malam itu sangat rame. Saking ramenya, naik gunung macam antri beli tiket. Depan maju, yang belakang ikut maju. Depan berhenti, yang belakang juga harus berhenti. Bayangkan sendiri aja dah, ga aq foto sih. Di hutan, kami melewati jalan setapak dan mesti hati-hati karena di sebelah kanan adalah jurang. Oh iya, hati-hati juga dengan akar-akar pohon serta batu yang bisa menyebabkan tersandung.

Setelah menempuh perjalanan panjang melewati hutan yang cukup landai, tantangan selanjutnya adalah melalui jalur yang lumayan menanjak. Di jalur ini perlu hati-hati juga, banyak pendaki sering banget terpeleset. Selain karena jalurnya yang cukup curam, juga karena jalur berupa tanah. Oh iya, jangan lupa pasang juga masker, debu-debu pada beterbangan karena pijakan kaki pendaki di depan kita. Setelah sekian waktu perjalanan, akhirnya sampai juga di tanah yang agak lapang. Di sana sudah banyak tenda yang didirikan dan para pendaki yang masak makanan. Awalnya gue kira itu Sabana I ternyata bukan. Setelah tanya-tanya ke salah satu pendaki yang nge-camp di sana, ternyata Sabana I masih harus naik lagi. Gilak. Ya udah, kami memutuskan naik lagi. Mumpung masih banyak pendaki lainnya. Jalur menuju Sabana I menanjak lagi. Bisa dibilang, Sabana I berada di atas bukit sedangkan tempat yang untuk nge-camp tadi ada di kaki bukit. Yup, maju terus pantang mundur. Sepanjang jalan ke Sabana I ternyata banyak pohon Edelweiss. “Dicium aja, wangi lho”, kata si Riries. Entah dia bohong atau hidung gue yang trouble, tidak tercium aroma apapun #hammer.

Sabana I

Akhirnya kami sampai juga di Sabana I setelah jalanan yang menanjak tadi. Di sana lebih banyak lagi pendaki yang nge-camp sambil bakar batang pohon untuk menghangatkan badan. Ternyata waktu menunjukkan pukul 2 am saat kami sampai di Sabana I. Karena tidak bawa tenda, kami berempat mencari tempat yang agak datar untuk istirahat. Ketiga teman gue menggelar matras, sedangkan gue menggelar banner bekas KKN satu tahun yang lalu #ngenes. Sleeping bag juga digelar dan seperti waktu pendakian Merapi kedua, tiduran dulu melihat langit yang cerah. Memandang indahnya hamparan bintang yang gak bisa gue lihat di kota. Good nite…

Baru serasa tidur beberapa menit, ternyata udah hampir menjelang shubuh. Dingiiiin banget euy. Suhunya cuma 9 derajat Celcius doang. Kaos kaki yang dipakai tidak memberikan efek apa-apa. Si Hafidh dan Asfar ternyata udah bersiap akan berangkat lagi. Ketika gue dibangunkan, gak gue gubris. Asli, masih capek dan ngantuk banget malah diajak lanjut perjalanan. Semakin meringkuk di sleeping bag. Tak berapa lama, dibangunkan lagi.

“Nek dinggo obah kie ora kademen, wes to percoyo karo aku”. Tetap tidur, dan gak gue gubris. Kemudian dia lanjut lagi,

“Wes to pisan iki percoyo karo aku”.

Arrggh asli, bikin emosi aja, sampe gue bilang “Nek arep lanjut, lanjut dewe ae ngko tak susul.” Hening….

Gue meringkuk kembali dalam sleeping bag. Terserah sih mau dianggap egois atau sok jadi yang menentukan. Jujur aja gue gak terlalu ngebet pengin sampai puncak. Niat mendaki hanya pengin menyegarkan pikiran dengan melihat keindahan alam di sepanjang perjalanan, kemudian merekamnya dalam-dalam di otak. Dan saat itu, gue gak mau kehilangan momen melihat sunrise di Sabana I. Yaa, cuma alasan sesederhana itu.

Shubuh telah tiba, kami sholat dengan menahan hawa dingin di Sabana I. Mengenai sholat Shubuh ini ada beberapa kejadian aneh. Pertama, ada yang sholat sambil tidur. Entah berpedoman pada ilmu fiqh dari mana dia melakukannya. Setau gue sholat kalau tidak mampu berdiri, ya dengan duduk. Jika tidak mampu duduk ya dengan tiduran/berbaring, bukan sambil tidur #gubrak. Kedua, ternyata juga yang sholat menghadap matahari yang akan mulai muncul. Jujur aja, matahari saat itu emang mengalihkan dunia kami. Bentuknya yang bulet serta warnanya yang orange menyala, begitu menyayangkan kalau tidak dilihat. Tapi mau bagaimana lagi, orangnya sudah duduk tahiyat berarti sudah hampir selesai sholatnya. Selama bukan karena dengan sengaja ingin mengubah arah kiblat, sepertinya tidak masalah. Allah Maha Mengetahui keadaan masing-masing hamba-Nya. Lagipula segala yang di timur dan barat semuanya adalah milik Allah. Alhamdulillah, gue sholat agak belakangan. Jadinya, kejadian yang sama tidak terulang lagi. Kalo gue sholat duluan mungkin juga sama menghadap matahari #lol. Itu sih bisa buat pelajaran: sekalipun keadaan di sekitar begitu menggoda, kita harus tetap bisa berfikir jernih agar bisa bertindak sebagaimana mestinya.

Sholat shubuh selesai kemudian saatnya… Foto-foto. Sunrise… bener-bener keren banget. Si Asfar semangat banget foto-foto saat sunrise. Gue sih cengar-cengir aja, sambil berkata dalam hati. “Ini lho alasan gue gak mau lanjut berangkat pagi-pagi buta tadi”. Mumpung masih di gunung, jangan sampailah kehilangan momen-momen indah berfoto dengan alam.🙂

Tak terasa udah sampai 1800 lebih kata. Padahal masih banyak cerita untuk lanjut sampai puncak, yang treknya lebih gila lagi. Emang beginilah bro pengalaman hidup, gak akan cukup kita uraikan hanya dengan kata-kata. Selamat mencoba sendiri aja yak🙂

Rangkuman tentang Gunung Merbabu:

tinggi : 3142 mdpl (source: http://www.merbabu.com)

jalur via Selo:

Basecamp – Hutan – Tanah datar dan lapang (pra-Sabana) -> naik -> Sabana I -> naik -> Sabana II -> naik -> Puncak Kenteng Songo

* hutan treknya cukup landai tapi panjang

* naik maksudnya ya benar-benar naik bukit. Sepanjang perjalanan banyak pohon edelweiss. Samping kanan dan kirinya ada padang sabana, Keren kan?

* puncak ada 7. Kalo kami ke puncak triangulasi dan Kenteng Songo. Jaraknya cuma deket kok. Oh iya, dari puncak kelihatan gunung Sumbing, Sindoro, Slamet, dan Merapi tentu aja.🙂

* untuk turun, kami bermain prosotan lewat jalur yang isinya sabana. Licin banget, harus pakai sepatu/sandal gunung biar bisa ngerem. Celana, Jaket, Tas siap2 kotor. Masker juga jangan lupa dipakai, debu doang. Asiklah pokok e.. meluncuuurrr  \(‘o’)/

Udah sekian aja ya.. Tunggu petualangan ane dan temen2 selanjutnya!

our next destination = Mt. Sumbing (insyaALLAH)

One thought on “Pendakian Merbabu (3142 mdpl) 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s